Welcome
Amanat Perang Baratayuda

Berikut Amanat Perang Baratayuda Yang Bisa Anda Teladani

Kisah tentang perang baratayuda adalah sebuah puncak pertikaian dari kisah mahabarata yang banyak dikenal oleh masyarakat. Meski kisah ini dihadirkan dalam dua versi yaitu Jawa dan India, kisah ini memiliki amanat yang sama yaitu tentang pelajaran hidup yang bisa diterapkan. Lalu, amanat perang baratayuda apa saja yang bisa diteladani?

Berikut Amanat Perang Tokoh Pewayangan Untuk Diteladani

1. Sifat Yang Buruk Pasti Akan Menemui Kehancuran

Perang baratayuda paling banyak dikenal oleh masyarakat sebagai peperangan yang terjadi antar saudara, yaitu peperangan antara Pandawa dan Kurawa. Begitu pula, awal terjadinya perang ini diawali dengan rasa marah dan benci yang dilakukan oleh Gendari sebagai ibu dari Kurawa.

Amanat Perang Baratayuda mahabarata

Sifat marah dan benci tersebut diturunkan kepada para putrana, sehingga Kurawa bisa menjadi musuh bebuyutan Pandawa. Dalam hal ini, Kurawa digambarkan sebagai seorang yang memiliki sifat yang tamak, angkuh, jahat, dengki dan bahkan bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Hal ini dapat dilihat dari kondisi kurawa yang mengajak bermain dadu para pandawa dengan kecurangannya untuk mendapatkan kembali seluruh harta kekayaan dari Pandawa. Setelah Pandawa mengalami pengasingan dan sudah kembali, Kurawa tidak mau diajak secara damai sehingga terjadi peperangan dahsyat yang membuatnya menemui kehancuran.

2. Perdamaian Bisa Mengalahkan Segalanya

Begitu pula, amanat perang baratayuda ini mengajarkan untuk mengutamakan jalur perdamaian. Dalam hal ini, perdamaian dapat berfungsi untuk menyelamatkan diri dari berbagai bahaya. Hal ini dapat digambarkan oleh kebijakan Dretarasta dalam membagi Kerajaan Kuru untuk diberikan kepada Pandawa dan Kurawa agar tidak terjadi pertikaian kembali.

Selain itu, sifat Pandawa yang penurut, baik dan bijaksana dengan mendahulukan perdamaian juga membuat kondisi persaudaraan tersebut tetap baik meskipun Kurawa masih menyimpan banyak dendam dan perasaan iri di hatinya. Oleh karena itu, pengabdian hidup untuk selalu berbuat baik dan benar perlu dilakukan agar mendapatkan kesejahteraan.

3. Menghormati Orang Tua

Begitu pula, Pandawa juga digambarkan sebagai kasatria yang baik dan menghormati orang tua. Hal ini dapat dilihat ketika Arjuna mengikuti sayembaya memanah di Kerajaan Panchala dan mendapatkan Drupadi. Dalam hal ibu, ibu Kunthi meminta kepada Arjuna untuk membagi hadiah sayembaranya kepada seluruh saudaranya, sehingga Drupadi memiliki suami lima.

Amanat Perang Baratayudha

4. Memiliki Sikap Rendah Hati

Berbagai tokoh pandawa yang dihadirkan dalam kisah mahabarata selalu menggambarkan seorang ksatria yang gagah dengan memiliki sifat yang rendah hati. Hal ini dapat digambarkan oleh tokoh Bima dan Arjuna yang menjadi bagian dari Pandawa sebagai tokoh pewayangan yang sering dianggap sebagai tokoh hero.

Dalam hal ini, Bima adalah tokoh yang digambarkan memiliki tubuh yang kekar dan berotot dengan sosok yang sadis dan brutal. Walaupun demikian, tokoh ini juga memiliki sifat yang lembut, banyak berkorban dan menyayangi keluarga. Begitu pula, Arjuna yang digambarkan dengan tokoh yang rupawan dan gagah juga memiliki sifat gemar berkelana, bertapa dan menuntut ilmu.

Selain itu, sifat rendah hati juga perlu di pertahankan hanya untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera dan damai. Tetapi, sebuah kebencian dan angkara murka juga harus dilawan karena keadilan dan kebenaran harus segera diterapkan. Tentunya, orang yang berperang dalam kebenaran dan keadilan ini akan mendapat kemuliaan.

Pada dasarnya, setiap saudara yang saling berbuat baik akan menghasilkan kerukunan yang baik. Bahkan, peperangan yang terjadi antara Pandawa dan Kurawa juga menimbulkan rasa prihatin karena kerajaan yang damai bisa hancur karena rasa dengki yang tak tertahankan. Oleh karena itu, beberapa amanat di atas perlu anda teladani dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *